K-Content Menggila Dunia: Dari Golden Globes Sampai Grammy – Ini Era Keemasan K-Pop, Parah?! 🏆🎶
Jakarta lagi heboh banget nih, soalnya K-content makin mendunia aja. Dari nyabet penghargaan di Hollywood sampe mecahin rekor streaming, fenomena budaya K-Pop ini nggak cuma ngetuk pintu pengakuan mainstream—tapi udah nendang pintunya sampe kebuka lebar, dan sekarang Grammy Awards jadi inceran selanjutnya!
Kemenangan terbaru dateng dari animasi Netflix ‘K-Pop Demon Hunters’ (KDH), yang baru aja nyabet dua penghargaan utama di Golden Globe Awards. KDH buktiin kekuatan storytelling dan musik Korea yang nggak main-main, dengan dapetin penghargaan Film Animasi Terbaik dan Lagu Original Terbaik. OST-nya yang keren abis, ‘Golden,’ bikin banyak orang salpok karena bisa ngalahin pesaing berat kayak ‘Wicked’ dan ‘Avatar 3,’ dan makin menegaskan pengaruh global K-Pop yang nggak bisa dibantah.

Sekarang, semua mata tertuju ke ‘Golden’ yang ngejar panggung yang lebih gede lagi: Grammy Awards. Associated Press, di analisis terbarunya, berani spekulasi soal kemungkinan K-Pop menang Grammy pertama kalinya, momen yang menurut banyak orang udah lama banget ditunggu.
Grammy Awards 2026 jadi tonggak sejarah, dengan artis K-Pop atau yang deket sama K-Pop dapet nominasi di kategori “Big Four” buat pertama kalinya. Nominasi yang paling bikin rame termasuk:
- Rosé BLACKPINK, yang jadi artis K-Pop pertama yang dinominasiin di kategori utama ‘Record of the Year’ dengan kolaborasinya yang super hits, ‘APT.’, bareng Bruno Mars.
- OST ‘Golden’ dari K-Pop Demon Hunters’ (dibawain sama Ejae, Audrey Nuna, dan Rei Ami dari Huntrixes), yang dinominasiin buat ‘Song of the Year.’
- Girl group produksi HYBE, KATSEYE, yang dapet nominasi buat ‘Best New Artist.’
Kategori ‘Song of the Year’ bikin persaingan yang seru banget antara ‘APT.’-nya Rosé dan ‘Golden’-nya K-Pop Demon Hunters. Persaingan langsung ini nunjukkin identitas K-Pop yang makin berkembang di dunia, apalagi dengan latar belakang yang beda dari karya-karya yang dinominasiin ini. ‘Golden’ sendiri udah bikin sejarah, jadi nomor satu di Billboard Hot 100 selama enam minggu berturut-turut, dan bikin para penyanyinya jadi artis K-Pop perempuan pertama yang berhasil kayak gitu, makin mantepin statusnya setelah menang di Golden Globe.
Walaupun K-Pop udah nggak bisa dipungkiri lagi jadi kekuatan penting di budaya pop dunia, tapi selama ini agak susah dapet pengakuan dari penghargaan bergengsi kayak Grammy. AP nyorotin perbedaan ini, dan bilang walaupun artis K-Pop udah pernah tampil di panggung Grammy, tapi belum pernah bawa pulang piala.
Tapi, nominasi yang bikin geger tahun ini, bikin pertanyaan penting: beneran ini bakal jadi momen bersejarah buat K-Pop, dan apa sih definisi “K-Pop” di era global yang baru ini? Para ahli punya pandangan yang beda-beda:
- Professor Areum Jeong dari Arizona State University, penulis ‘K-pop Fandom,’ bilang kebanyakan nominasi ini lebih ke “konsep K-Pop campuran lintas batas” daripada K-Pop murni. Dia bilang walaupun Rosé dilatih di sistem K-Pop dan ‘APT.’ ada motif permainan minum-minum Korea, tapi nggak kerasa kayak “lagu K-Pop murni.” Sama juga kayak KATSEYE, walaupun dibentuk sama HYBE, tapi emang sengaja dipasarin buat penonton Barat.
- Visiting Assistant Professor Mathieu Verbiguié dari Carnegie Mellon University bilang nominasi ini beda karena ada “unsur musik pop mainstream.” Dia nyebutin hubungannya sama film Netflix (KDH), kolaborasi sama Bruno Mars (‘APT.’), dan line-up internasional serta serial Netflix-nya KATSEYE (‘Pop Star Academy: Katseye’) sebagai faktor penting. Buat Verbiguié, ini nunjukkin kalo K-Pop bukan lagi genre yang khusus, tapi udah jadi bagian penting dari musik mainstream.
Yang sering dibilang sama para ahli ini adalah Grammy selama ini “alergi sama lirik non-Inggris” di dunia Barat. Professor Jeong bilang jelas kalo Grammy sering ngelupain grup-grup yang mecahin rekor kayak BTS, SEVENTEEN, dan Stray Kids karena masalah ini. Jadi “nggak heran” kalo lagu kayak ‘APT.’ dan musiknya KATSEYE, yang liriknya lebih banyak bahasa Inggris dan nggak terlalu kentel K-Pop-nya, bisa dapet nominasi. Professor Verbiguié setuju, dan bilang sekarang emang ada tren di K-Pop yang liriknya makin dikit bahasa Korea dan makin banyak bahasa Inggris.
Jurnalis Tamar Herman, yang punya newsletter ‘Notes on K-pop,’ ngasih penilaian yang lebih blak-blakan. Dia bilang 2025 itu “tahun yang lesu buat musik AS,” yang ditandain sama penurunan streaming lagu baru dan kurangnya mega-hits yang mendominasi tangga lagu. Herman bilang walaupun nominasi ini jelas jadi momen penting buat K-Pop, tapi ini “telat banget.” Dia bilang pengakuan ini bukan karena K-Pop tiba-tiba jadi keren, tapi lebih karena industri musik Amerika lagi “ngelirik ke luar” karena performanya sendiri lagi kurang bagus. Buat Herman, K-Pop udah “keren dari dulu,” dan pengakuan ini sebenernya bukti produksi konten dan kemampuan bikin tren global K-Pop yang lebih unggul, bukan karena K-Pop tiba-tiba jadi hebat.
Sambil nunggu Grammy Awards ke-68, pertanyaannya bukan apakah K-Pop bakal menang, tapi mungkin, kayak yang dibilang sama ahli industri musik Korea-Amerika Bernie Cho dari DFSB Collective dengan percaya diri, “siapa yang dapet berapa banyak.” Walaupun susah buat prediksi, Professor Verbiguié hati-hati bilang kalo ‘Golden’ mungkin punya peluang yang lebih besar. Tapi, Herman ngasih poin penting: kalo ‘Golden,’ OST dari girl group virtual dari film animasi yang nggak langsung dari sistem industri K-Pop tradisional, yang menang, apa beneran bisa dibilang “kemenangan K-Pop”? Jawabannya, menurut dia, bakal beda-beda tergantung siapa yang lo tanya.
Semua mata bakal tertuju ke Crypto.com Arena di Los Angeles tanggal 1 Februari (waktu setempat), saat K-Pop berdiri di ambang momen yang mungkin paling penting dalam sejarah musik globalnya. Entah satu atau banyak piala yang diangkat, momen ini jelas menegaskan peran K-Pop sebagai kekuatan budaya yang transformatif.
Penerimaan Grammy ke K-Pop di kategori paling bergengsinya nunjukkin perubahan budaya yang penting, dan nunjukkin evolusi yang nggak bisa dibantah dalam selera musik global. Lebih dari sekadar penghargaan, momen ini ngebuktiin inovasi artistik Korea selama puluhan tahun dan dampaknya yang besar buat dunia hiburan internasional.
Editor: Minho Kang 📜













